Sebenarnya judul ini tidak sepenuhnya benar, mengingat aku tak sekalipun memanggil ibuku dengan kata "Emak". Dulu sewaktu kecil, aku dominan memanggilnya "Maaa.....". Namun sejak beliau telah menunaikan ibadah haji tahun 1993, maka panggilanku berubah menjadi "Ummi" sampai sekarang. Tak banyak yang kuingat saat keberangkatan Ibu ke tanah suci waktu itu. Namun yang paling kuingat adalah ritual, acara, makan-makan, tamu, mengantar dan menjemput. Ayah pun bukan panggilan seperti itu untuknya. Berhubung Ayah juga telah menunaikan ibadah haji, maka panggilanku adalah "Ajii". Beliau telah ke tanah suci jauh sebelum kelahiranku. Aji dengan sabar mengajari Ummi mengenai tata cara pelaksanaan haji, meskipun sebenarnya telah diadakan pelatihan secara rutin oleh Kanwil Depag setempat. Tentu penjelasannya berdasarkan pengalamannya beberapa tahun lalu, yang tentu saja keadaannya jauh berbeda dengan saat ini.
Jarak Pasar dari rumahku waktu itu lumayan jauh, butuh setengah jam menggunakan mikrolet atau "pete-pete" menuju kesana. Terkadang kami naik "bendi", andong yang ditarik seekor kuda milik Haji Tayang. Haji Tayang adalah suami Hj Kerra, guru mengajiku. Setiap jadwal pasar, aku selalu merengek kepada Ummi agar aku diikutkan. Kadang beliau akhirnya menyerah dan mengajakku, namun lebih sering aku tidak diikutkannya, yang tentu saja membuatku menangis sejadi-jadinya.
Sepulang dari pasar biasanya Ummi membelikan kami makanan seadanya, disamping kebutuhan rumah tangga yang tidak kalah pntingnya. Dalam tasbelanjaannya terkadang berisi ikan, sayuran, tahu, tempe, kue sebanyak jumlah kami, rambutan yang juga sebanyak jumlah kami. Yang paling membuatku senang saat ibu membeli udang, atau "Lawi-lawi"sejenis rumput laut yang nikmat. Pasangannya tentu saja ikan "Mairo" (teri) yang dimasak "kacci" (kecut/masam)
Mengingat kondisi ekonomi keluarga saat itu yang pas pasan, membuat ummi begitu selektif dalam membeli sesuatu. Aku sebenarnya heran bagaimana ummi mengatur kondisi keuangan begitu rupa sehingga kami sekeluarga cukup dengan kebutuhan hidup kami masing masing. Saudaraku empat orang, aku yang bungsu. Dan Ummi selalu melakukan yang terbaik buat kami. Walaupun kami jarang diberi uang jajan ke sekolah, namun didikan ummi dan pengertiannya kepada kami, membuat kami tidak pernah merengek dengan keterbatasan ini.
Untuk kebutuhan belanja Ummi, apapun dijualnya demi mendapatkan uang saat itu, jika belum musim panen jagung atau ubi, maka daun jati pun dapat menjadi uang. Saat itu kantung plastik belum setenar sekarang,dan harganya mahal, karena itu daun jati menjadi alternatif daeng penjual ikan untuk membungkus ikan dagangannya. Terkadang juga daun pisang dibawanya ke pasar. Namun saat itu kami Aku tak pernah mengerti apa yang sedang dilakukan Ummi. Aku hanya menjalani hidup sebagi seorang anak biasa yang tidak tahu apa-apa. Aku bermain dengan teman, dan jarang membantu ummi.Saat itu aku belum berfikir, bahwa dalam keringat dan darah yang kita miliki ada hak orang lain disitu. Dalam setiap kelelahan dan tangisnya, ada harapan dan kewajiban yang harus diembannya. Dan dalam keterbatasannya, ada semangat untuk membahagiakan kami, Terima kasih Ummiku....
Post a Comment