Pada suatu hari, Imam Syibli sedang berada di sebuah
kebun yang subur. Tiba-tiba kedengaram suara memanggil-manggil,
“Syibli-Syibli!”
Imam Syibli berhenti dari pekerjaannya dan
mencari-cari, siapakah gerangan yang memanggil-manggilnya. Ternyata suara itu
datang dari pohon mangga.
“Apa maumu memanggil-manggil aku?” tanya Imam Syibli.
Makhluk gaib yang menyatu dengan pohon mangga itu
menjawab, “Jadilah orang yang memiliki sifat mulia seperti aku.”
“Maksudmu?” tanya Imam Syibli kurang senang.
“Aku, jika dilempari orang dengan batu, akan melempari
orang itu dengan buahkuyang lezat-lezat.”
Imam Syibli menjawab, “Oh, memang baik buatmu. Tapi
mengapa nasibmu tidak baik penghabisannya?”
Kini, pohon mangga yang keheranan. Ia pun bertanya,
“Maksudmu?”
Imam Syibli menerangkan, “Kalau engkau sudah tidak ada
gunanya lagi, sudah tua, batangmu akan ditebang, daun-daunmu akan digunduli,
dan dirimu akan dimangsa api sebagai kayu bakar.”
Pohon mangga itu dengan sedih berkata, “Itulah
kesalahanku. Aku tidak seperti pohon cemara, yang bisa condong ke barat bila
angin bertiup ke barat, dan condongketimur bila angin bertiup ke timur.”
“Jadi, mana yang lebih baik, nasibmu atau nasib pohon
cemara?” tanya Imam Syibli.
“Inilah kebanggaan saya. Memang pohon cemara dapat
selamat dengan cara seperti itu, tetapi kalau tua pohon cemara hanya akan roboh
begitu saja, dan tidak ada yang mengambilnya sebagai kayu bakar, apalagi buat
arang. Sedangkan aku, meskipun penghabisanku dibakar orang, namun aku hancur
dengan terhormat. Sebab manusia tidak akan sembarangan membakar tubuhku bila
tidak untuk memasak atau keperluan lainnya, seperti membuat arang. Jadi aku
masih ada gunanya sampai akhir hidupku. Abu bekas pembakaranku pun masih dicari
orang untuk menggosok perabotan rumah mereka karena abuku terkenal mahal dan
dapat membuat logam-logam menjadi bersih dan mengkilap. Jadi nasibku lebih baik
daripada pohon cemara.”
Imam Syibli mengangguk-angguk kepala tanda menyetujui
prndapat pohon mangga, lebih baik mati terhormat daripada menjual harga diri
dengan bersikap munafik, bersedia mengikuti arah kemanapun angin bertiup.
Sumber : http://health.lintas.me/go/cerita-islami.com/kisah-pohon-mangga-cerita-islami
Gambar : http://www.google.com/imgres?imgurl=http://blog.leipzic.com/wp-content/uploads/2012/05/POHON-TERLARANG.jpg&imgrefurl=http://blog.leipzic.com/2012/03/26/buah-pengetahuan-yang-baik-dan-jahat/&usg=__REGYuhrdUU6OBLhnyIYovQE6xXE=&h=1205&w=900&sz=71&hl=id&start=16&sig2=3Hd--cIdf0JFZPJbDnTdFA&zoom=1&tbnid=WRHCu2dRPgHD-M:&tbnh=150&tbnw=112&ei=4pE1UvX4HobRrQfd7YHIAw&um=1&itbs=1&sa=X&ved=0CEoQrQMwDw

Post a Comment