Bismillah

Kata Awal

Pengunjung

Ayah

I Love You All

We Are Happy Family

We Are Happy Family

Olahraga

Bunda

I Love Ayah n Fatih
Masukan Paling Barruuu

Obat Tradisional Penyembuh Luka dan Menghentikan Pendarahan

Written By zOELKHIEF on Tuesday, March 12, 2013 | 2:08 PM

Jika anda terkena beda tajam, pisau, silet dll,jangan panik dan bingung segera siapkan Dua lembar daun singkong, remas-remas dengan kedua tangan sampai cairan daun singkong berwarna biru tua keluar, kemudian oleskan pada luka. Nah gampang kan?

E-KTP

Written By zOELKHIEF on Sunday, March 10, 2013 | 6:18 AM

Elektronik KTP (E-KTP) adalah sebuah Kartu Identitas  mengenai jati diri seseorang yang dikonfigurasikan dengan teknologi terkini, sehingga data mengenai seseorang benar-benar akurat dan asli. Beberapa data yang dimasukkan dalam proses perekaman (Enroll) E-KTP adalah Data diri, alamat, TTL, Sidik jari, Foto, Foto iris mata dll. 
Proses perekaman E-KTP di Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara dilakukan sejak bulan Agustus 2012 sampai Desember 2012. Jumlah pwnduduk yang telah melakukan perekaman adalah 4775 orang. 
Syarat untuk melakukan pemotretan  E-KTP adalah Warga setempat, berkebangsaan Indonesia, minimal berumur 16 tahun sejak tanggal perekaman.
Adapun langkah langkah dalam melakukan perekaman E-KTP adalah:
  1. Mendatangi kantor camat setempat sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh pemerintah kecamatan
  2. Menunjukkan kartu undangan perekaman E-KTP dari Kantor Catatan Sipil Kepada Operator
  3. Operator kemudian mencari data warga yang telah diinject dalam sistem dengan memasukkan NIK sesuai yang tertera dalam surat undangan, kemudian membacakannya. Segala perubahan dan keterangan yang dianggap keliru dapat diperbaiki oleh warga.
  4. Kemudian Operator akan melakukan pemotretan setengah badan, latar biru untuk tahun kelahiran genap dan latar  merah untuk tahun kelahiran ganjil. Bagi warga yang cacat tangan/wajah, sebelum melakukan pemotretan dilakukan pemotretan untuk menunjukkan bagian tubuh yang cacat
  5. Setelah itu, warga diminta membubuhkan tanda tangan di elektronik signature pad
  6. Warga kemudian memberikan sidik jari di finger print dengan urutan : Empat jari kanan kecuali jempol, kemudian empat jari kiri kecuali jempol, terakhir jari jempol kanan dan kiri
  7. Selanjutnya dilakukan pemotretan iris mata. Iris mata adalah bagian dalam mata yang bentuknya berbeda dan mempunyai pola khusus dengan orang lain, layaknya sidik jari. Warga diminta untuk melebarkan kelopak mata (melotot), sehingga bola mata terlihat dengan sempurna di layar monitor, dan secara otomatis sistem akan memotret iris mata.
  8. Langkah selanjutnya adalah verifikasi telunjuk kanan dan kiri di finger print
  9. Kemudian di layar monitor akan muncul data tentang diri warga yang bersangkutan sesuai dengan seluruh hasil proses perekaman yang dilakukan
  10. Operator akan membacakan hasil akhir proses enrollment, jika data tersebut telah benar menurut warga, maka tanda tangan dilakukan untuk kedua kalinya di signature pad.
  11. Operator melakukan verifikasi operator untuk mengirim data tersebut dari PC Client ke PC Server
Jika telah selesai melakukan proses enrollment, maka warga akan menunggu hingga E-KTP telah jadi dan dikirim dari konsorsium E-KTP pusat, biasanya 2-3 bulan setelah proses enrollment.
Nah demikianlah proses perekaman E-KTP yang penulis bisa share berdasarkan pengalaman pribadi, bagi yang mau nambahin, or copas, monggooooo




Nah ini foto pas perekaman.........di Kantor Camat Basala Kab. Konawe Selatan Sultra
Oh ya, baru-baru ini Kemeterian Dalam Negeri mengumumkan untuk proses perekaman E-KTP Terbaik nasional di Provinsi Kalimantan Timur dan  provinsi Sulawesi Tenggara meraih predikat terbaik keempat broooo....Wassalam

Emak

Written By zOELKHIEF on Saturday, March 9, 2013 | 6:26 AM

Sebenarnya judul ini tidak sepenuhnya benar, mengingat aku tak sekalipun memanggil ibuku dengan kata "Emak". Dulu sewaktu kecil, aku dominan memanggilnya "Maaa.....". Namun sejak beliau telah menunaikan ibadah haji tahun 1993, maka panggilanku berubah menjadi "Ummi" sampai sekarang. Tak banyak yang kuingat saat keberangkatan Ibu ke tanah suci waktu itu. Namun yang paling kuingat adalah ritual, acara, makan-makan, tamu, mengantar dan menjemput. Ayah pun bukan panggilan seperti itu untuknya. Berhubung Ayah juga telah menunaikan ibadah haji, maka panggilanku adalah "Ajii". Beliau telah ke tanah suci jauh sebelum kelahiranku. Aji dengan sabar mengajari Ummi mengenai tata cara pelaksanaan haji, meskipun sebenarnya telah diadakan pelatihan secara rutin oleh Kanwil Depag setempat. Tentu penjelasannya berdasarkan pengalamannya beberapa tahun lalu, yang tentu saja keadaannya jauh berbeda dengan saat ini.

Jarak Pasar dari  rumahku waktu itu lumayan jauh, butuh setengah jam menggunakan mikrolet atau "pete-pete" menuju kesana. Terkadang kami naik "bendi", andong yang ditarik seekor kuda milik Haji Tayang. Haji Tayang adalah suami Hj Kerra, guru mengajiku. Setiap jadwal pasar, aku selalu merengek kepada Ummi agar aku diikutkan. Kadang beliau akhirnya menyerah dan mengajakku, namun lebih sering aku tidak diikutkannya, yang tentu saja membuatku menangis sejadi-jadinya. 

Sepulang dari pasar biasanya Ummi membelikan kami makanan seadanya, disamping kebutuhan rumah tangga yang tidak kalah pntingnya. Dalam tasbelanjaannya terkadang berisi ikan, sayuran, tahu, tempe, kue sebanyak jumlah kami, rambutan yang juga sebanyak jumlah kami. Yang paling membuatku senang saat ibu membeli udang, atau "Lawi-lawi"sejenis rumput laut yang nikmat. Pasangannya tentu saja ikan "Mairo" (teri) yang dimasak "kacci" (kecut/masam)

Mengingat kondisi ekonomi keluarga saat itu yang pas pasan, membuat ummi begitu selektif dalam membeli sesuatu. Aku sebenarnya heran bagaimana ummi mengatur kondisi keuangan begitu rupa sehingga kami sekeluarga cukup dengan kebutuhan hidup kami masing masing. Saudaraku empat orang, aku yang bungsu. Dan Ummi selalu melakukan yang terbaik buat kami. Walaupun kami jarang diberi uang jajan ke sekolah, namun didikan ummi dan pengertiannya kepada kami, membuat kami tidak pernah merengek dengan keterbatasan ini. 

Untuk kebutuhan belanja Ummi, apapun dijualnya demi mendapatkan uang saat itu, jika belum musim panen jagung atau ubi, maka daun jati pun dapat menjadi uang. Saat itu kantung plastik belum setenar sekarang,dan harganya mahal, karena itu daun jati menjadi alternatif daeng penjual ikan untuk  membungkus ikan dagangannya.  Terkadang juga daun pisang dibawanya ke pasar. Namun saat itu kami Aku tak pernah mengerti apa yang sedang dilakukan Ummi. Aku hanya menjalani hidup sebagi seorang anak biasa yang tidak tahu apa-apa. Aku bermain dengan teman, dan jarang membantu ummi.Saat itu aku belum berfikir, bahwa dalam keringat dan darah yang kita miliki ada hak orang lain disitu. Dalam setiap kelelahan dan tangisnya, ada harapan dan kewajiban yang harus diembannya. Dan dalam keterbatasannya, ada semangat untuk membahagiakan kami, Terima kasih Ummiku....

 
Support : Creating Website | Zoel Template | Zulkifli Abu Fatih
Copyright © 2011. If We Believe,We Can !! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Zoel Template
Proudly powered by Blogger